Duniaternak’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TERNAK KAMBING PE

TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA

Kambing termasuk salah satu jenis ternak yang akrab dengan sistem usaha tani di pedesaan. Hampir setiap rumah tangga di pedesaan memelihara kambing, sebagian dari mereka menjadikannya sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga. Peranan ternak kambing bagi kehidupan petani cukup besar, hal ini disebabkan karena harganya terjangkau oleh daya beli petani dan memiliki daya reproduksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ternak besar. Sebagian petani memelihara ternak kambing sebagai tambahan sumber pendapatan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila diperlukan.

Kambing merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Indonesia. Distribusi penyebaran kambing relatif merata diseluruh daerah, rata-rata satu dari lima rumah tangga petani memelihara 1 sampai 4 ekor kambing. Kebanyakan ternak kambing digunakan sebagai tabungan yang dapat dijual sewaktu waktu, sebagai ternak penghasil pupuk, jaminan bila terjadi kegagalan panen, dan sebagai ternak potong (Devendra dan Burns, 1994).

Salah satu jenis kambing yang populer saat ini adalah kambing Peranakan Ettawa (PE), yang merupakan kambing Persilangan antara kambing Kacang asli Indonesia dengan kambing Ettawa dari India. kambing Ettawa diimpor oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1908 (Triwulaningsih, 1989).

Kambing PE di daerah pedesaan pada umumnya diarahkan sebagai kambing penghasil daging, namun sejak dilakukan ekspor harga kambing PE menjadi lebih mahal, perhitungan harga tidak didasarkan pada bobot hidup, tetapi performans. Hal inilah yang mendorong peternak dan pengusaha mengembangkan kambing PE. kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan salah satu produk unggulan plasma nutfah berdaya saing yang harus dipertahankan dan ditingkatkan produktivitasnya.

Domestikasi ternak kambing diperkirakan terjadi di Asia barat pada tahun sembilan ribu sampai sebelas ribu tahun yang lalu. kambing termasuk binatang yang dijinakan paling awal atau paling tidak nomor dua setelah anjing (Tomaszewska et al., 1993). kambing yang ada sekarang merupakan hasil domestikasi yang diturunkan dari tiga jenis kambing liar yaitu: capra hircus, capra falconeri, dan capra frisca (Sosroamidjojo, 1990).

Menurut Setiawan dan Tanius (2005), di antara beberapa kambing Perah unggul, kambing PE memiliki kemampuan memproduksi susu sebanyak 1,5 sampai 3 liter perhari. Berdasarkan kemampuan memproduksi susu tersebut, maka kambing Perah PE sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil susu. Selain itu, kambing PE pun sangat adaptif dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas, dan budidayanya relatif mudah sehingga dapat dijadikan bisnis sampingan keluarga.

Kambing Ettawa

Kambing Ettawa merupakan keturunan kambing Jamnapari yang di import dari India pada era tahun1920 yang merupakan kambing yang besar, dengan tinggi 70 sampai 80 cm, dan berat 40 sampai 45 kg (Devendra dan Burns, 1994). Sedangkan menurut Prihadi (1997) bahwa warna dasar dari kambing Ettawa adalah putih, coklat dan hitam. Telinga menggantung dan panjangnya 30 cm. Berat badan jantan 68 sampai 91 kg, sedang yang betina 36 sampai 63 kg. Tinggi gumba jantan 91 sampai 127 cm dan yang betina 76 sampai 92 cm. Produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari.

Kambing Ettawa merupakan bangsa kambing yang populer dan dipelihara secara luas sebagai penghasil susu di India dan Asia tenggara. Kambing Ettawa merupakan kambing besar, bertelinga besar, bertelinga panjang dan berasal dari daerah sekitar sungai Gangga, Jumna dan Chambal di India. Kambing Ettawa sangat baik sebagai ternak perah dan juga sering dipelihara sebagai penghasil daging. Profil mukanya khas cembung dan pada umumnya bertanduk pendek yang berbentuk pedang lengkung (Devendra dan Burn, 1994).

Kambing Ettawa pada umumnya setahun beranak sekali dan rata-rata jumlah anak dalam satu kelahiran hanya satu. Berdasarkan pandangan pada kemampuan produksi susu yang baik dan pertumbuhannya, bangsa kambing ini digunakan secara menyebar untuk grading-up kambing-kambing lokal yang lebih kecil (Prihadi, 1997).

Kambing Kacang

Kambing Kacang merupakan kambing asli Malaysia dan Indonesia yang merupakan kambing yang tahan derita, lincah, mampu beradaptasi dengan baik dan tersebar luas di wilayah itu, selain itu kegunaan utamanya adalah sebagai penghasil daging, serta mempunyai kulit yang relatif tipis dengan bulu yang kasar, dan hewan jantannya mempunyai bulu surai yang panjang dan kasar (Devendra dan Burns, 1994).

Kambing Kacang mempunyai warna yang bervariasi dari hitam, coklat, putih atau kombinasinya. Tubuhnya kecil dan pendek, kepala kecil dan ringan, hidung lurus, leher pendek, telinga pendek, kaku dan tegak ke depan samping. Kulit tipis, rambut kasar, dan kambing jantan mempunyai surai dengan rambut kasar dan panjang. Punggung sedikit lebih tinggi dari bahunya. Tanduk tumbuh baik pada jantan maupun betina, mengarah ke belakang dan membelok ke luar. kambing Kacang tahan terhadap keadaan yang buruk dan dipelihara sebagai kambing potong yang sangat subur, kelahiran kembar dua merupakan hal yang biasa bahkan kadang-kadang kembar tiga (Hardjosubroto,1994).

Tinggi gumba kambing jantan rata-rata 60 sampai 65 cm, dan yang betina 56 cm. kambing jantan dan betina dewasa masing-masing berbobot kurang lebih 25kg dan 20 kg, dan lambat mencapai dewasa kelamin. Persentase karkas 44 sampai 51%, meskipun ambingnya berkembang dengan baik, produksi susunya sangat sedikit (Devendra dan Burns, 1994).

Kambing Peranakan Ettawa

Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawa yang telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hasil persilangan ini menjadi bangsa kambing yang sudah beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Bentuk tubuhnya berada diantara kambing Kacang dan kambing Ettawa. kambing jantan memiliki bulu surai dibagian leher, kaki belakang dan gumba, sedang pada betina hanya terdapat pada bagian paha. Warna bulu bervariasi dari coklat muda sampai hitam (Ludgate, 1989).

Ciri yang lain menurut Hardjosubroto (1994), warna bulu belang hitam, merah, coklat dan kadang-kadang putih, muka cembung dan telinga panjang terkulai ke bawah. Gelambir kambing PE cukup besar, di daerah paha, ekor dan dagu berbulu panjang. Tanduknya pendek dan kecil, rahang bawah lebih menonjol dari pada rahang atasnya, disamping itu terdapat perbedaan kambing Ettawa dengan kambing PE yang terlihat pada libido sexualisnya.

Kambing PE mempunyai telinga yang menggantung dengan rata-tata ukuran panjang pada ternak jantan 29,05 cm dan yang betina 26,68 cm, warna bulu putih belang coklat atau hitam, muka cembung, rata-rata berat badan ternak jantan dewasa 40,86 kg dan tinggi 89,57 cm, sedangkan berat ternak betina dewasa 38 kg dan tinggi 77,18 cm (Subandriyo dan Tiesnamurti, 1993).

Mei 14, 2008 - Ditulis oleh duniaternak | kambing | | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar