<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Duniaternak's Weblog</title>
	<atom:link href="http://duniaternak.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniaternak.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 May 2008 06:48:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='duniaternak.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Duniaternak's Weblog</title>
		<link>http://duniaternak.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://duniaternak.wordpress.com/osd.xml" title="Duniaternak&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://duniaternak.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TERNAK KAMBING PE</title>
		<link>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/ternak-kambing-pe/</link>
		<comments>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/ternak-kambing-pe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 06:48:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniaternak</dc:creator>
				<category><![CDATA[kambing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniaternak.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA Kambing termasuk salah satu jenis ternak yang akrab dengan sistem usaha tani di pedesaan. Hampir setiap rumah tangga di pedesaan memelihara kambing, sebagian dari mereka menjadikannya sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga. Peranan ternak kambing bagi kehidupan petani cukup besar, hal ini disebabkan karena harganya terjangkau oleh daya beli petani dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniaternak.wordpress.com&amp;blog=3722687&amp;post=3&amp;subd=duniaternak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:center;"><img src="/DOCUME~1/KOMPI-3/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot.jpg" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.85pt;text-align:center;text-indent:36pt;line-height:150%;"><strong>TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.85pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing termasuk salah satu jenis ternak yang akrab dengan sistem usaha tani di pedesaan. Hampir setiap rumah tangga di pedesaan memelihara kambing, sebagian dari mereka menjadikannya sebagai salah satu sumber penghasilan keluarga. Peranan ternak kambing bagi kehidupan petani cukup besar, hal ini disebabkan karena harganya terjangkau oleh daya beli petani dan memiliki daya reproduksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ternak besar. Sebagian petani memelihara ternak kambing sebagai tambahan sumber pendapatan. Selain itu juga dapat digunakan sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila diperlukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di Indonesia. Distribusi penyebaran kambing relatif merata diseluruh daerah, rata-rata satu dari lima rumah tangga petani memelihara 1 sampai 4 ekor kambing. Kebanyakan ternak kambing digunakan sebagai tabungan yang dapat dijual sewaktu waktu, sebagai ternak penghasil pupuk, jaminan bila terjadi kegagalan panen, dan sebagai ternak potong (Devendra dan Burns, 1994). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Salah satu jenis kambing yang populer saat ini adalah kambing Peranakan Ettawa (PE), yang merupakan kambing Persilangan antara kambing Kacang asli Indonesia dengan kambing Ettawa dari India. kambing Ettawa diimpor oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1908 (Triwulaningsih, 1989).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing PE di daerah pedesaan pada umumnya diarahkan sebagai kambing penghasil daging, namun sejak dilakukan<span> </span>ekspor harga kambing PE menjadi lebih mahal, perhitungan harga tidak didasarkan pada bobot hidup, tetapi performans. Hal inilah yang mendorong peternak dan pengusaha mengembangkan kambing PE. kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan salah satu produk unggulan plasma nutfah berdaya saing yang harus dipertahankan dan ditingkatkan produktivitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Domestikasi ternak kambing diperkirakan terjadi di Asia barat<span> </span>pada tahun sembilan ribu sampai sebelas ribu tahun yang lalu. kambing termasuk binatang yang dijinakan paling awal atau paling tidak nomor dua setelah anjing (Tomaszewska <em>et al.</em>, 1993). kambing yang ada sekarang merupakan hasil domestikasi yang diturunkan dari tiga jenis kambing liar yaitu: <em>capra hircus, capra falconeri, dan capra frisca </em>(Sosroamidjojo, 1990).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Menurut Setiawan dan Tanius (2005), di antara beberapa kambing Perah unggul, kambing PE memiliki kemampuan memproduksi susu sebanyak 1,5 sampai 3 liter perhari. Berdasarkan kemampuan memproduksi susu tersebut, maka kambing Perah PE sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ternak penghasil susu. Selain itu, kambing PE pun sangat adaptif dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas, dan budidayanya relatif mudah sehingga dapat dijadikan bisnis sampingan keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">Kambing Ettawa</span></strong><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing Ettawa merupakan keturunan kambing Jamnapari yang di import dari India pada era tahun1920 yang merupakan kambing yang besar, dengan tinggi 70<span> </span>sampai 80 cm, dan berat 40<span> </span>sampai 45 kg (Devendra dan Burns, 1994).<span> </span></span><span style="font-family:Arial;">Sedangkan menurut Prihadi (1997) bahwa warna dasar dari kambing Ettawa adalah putih, coklat dan hitam. Telinga menggantung dan panjangnya 30 cm. Berat badan jantan 68 sampai 91 kg, sedang yang betina 36<span> </span>sampai 63 kg. Tinggi gumba jantan 91 sampai 127 cm dan yang betina 76 sampai 92 cm. Produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing Ettawa merupakan bangsa kambing yang populer dan dipelihara secara luas sebagai penghasil susu di India dan Asia tenggara. Kambing Ettawa merupakan kambing besar, bertelinga besar, bertelinga panjang dan berasal dari daerah sekitar sungai Gangga, Jumna dan Chambal di India. Kambing Ettawa sangat baik sebagai ternak perah dan juga sering dipelihara sebagai penghasil daging. Profil mukanya khas cembung dan pada umumnya bertanduk pendek yang berbentuk pedang lengkung (Devendra dan Burn, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing Ettawa pada umumnya setahun beranak sekali dan rata-rata jumlah anak dalam satu kelahiran hanya satu. Berdasarkan pandangan pada kemampuan produksi susu yang baik dan pertumbuhannya, bangsa kambing ini digunakan secara menyebar untuk grading-up kambing-kambing lokal yang lebih kecil (Prihadi, 1997).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">Kambing Kacang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing Kacang merupakan kambing asli Malaysia dan Indonesia yang merupakan <span> </span>kambing <span> </span>yang<span> </span>tahan<span> </span>derita,<span> </span>lincah, mampu beradaptasi dengan baik dan tersebar luas di<span> </span>wilayah itu, selain itu kegunaan utamanya adalah sebagai penghasil daging, serta mempunyai kulit yang relatif tipis dengan bulu yang kasar, dan<span> </span>hewan<span> </span>jantannya<span> </span>mempunyai <span> </span>bulu surai yang panjang<span> </span>dan kasar (Devendra dan Burns, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing Kacang mempunyai warna yang bervariasi dari hitam, coklat, putih atau kombinasinya. Tubuhnya kecil dan pendek, kepala kecil dan ringan, hidung lurus, leher pendek, telinga pendek, kaku dan tegak ke depan samping. Kulit tipis, rambut kasar, dan kambing jantan mempunyai surai dengan rambut kasar dan panjang. Punggung sedikit lebih tinggi dari bahunya. Tanduk tumbuh baik pada jantan maupun betina, mengarah ke belakang dan membelok ke luar. kambing Kacang tahan terhadap keadaan yang buruk dan dipelihara sebagai kambing potong yang sangat subur, kelahiran kembar dua merupakan hal yang biasa bahkan kadang-kadang kembar tiga (Hardjosubroto,1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Tinggi gumba kambing jantan rata-rata 60 sampai 65 cm, dan yang betina 56 cm. kambing jantan dan betina dewasa masing-masing berbobot kurang lebih 25kg dan 20 kg, dan lambat mencapai dewasa kelamin. Persentase karkas 44 sampai 51%, meskipun ambingnya berkembang dengan baik, produksi susunya sangat sedikit (Devendra dan Burns, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:Arial;">Kambing Peranakan Ettawa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawa yang telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hasil persilangan ini menjadi bangsa kambing yang sudah beradaptasi dengan kondisi di Indonesia. Bentuk tubuhnya berada diantara kambing Kacang dan kambing Ettawa. kambing jantan memiliki bulu surai dibagian leher, kaki belakang dan gumba, sedang pada betina hanya terdapat pada bagian paha. Warna bulu bervariasi dari coklat muda sampai hitam (Ludgate, 1989). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Ciri yang lain menurut Hardjosubroto (1994), warna bulu belang hitam, merah, coklat dan kadang-kadang putih, muka cembung dan telinga panjang terkulai ke bawah. Gelambir kambing PE cukup besar, di daerah paha, ekor dan dagu berbulu panjang. Tanduknya pendek dan kecil, rahang bawah lebih menonjol dari pada rahang atasnya, disamping itu terdapat perbedaan kambing Ettawa dengan kambing PE yang terlihat pada libido sexualisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Kambing PE mempunyai telinga yang menggantung dengan rata-tata ukuran panjang pada ternak jantan 29,05 cm dan yang betina 26,68 cm, warna bulu putih belang coklat atau hitam, muka cembung, rata-rata berat badan ternak jantan dewasa 40,86 kg dan tinggi 89,57 cm, sedangkan berat ternak betina dewasa 38 kg dan tinggi 77,18 cm (Subandriyo dan Tiesnamurti, 1993).</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/duniaternak.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/duniaternak.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniaternak.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniaternak.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniaternak.wordpress.com&amp;blog=3722687&amp;post=3&amp;subd=duniaternak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/ternak-kambing-pe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c654ceaf610f040df5d7ea92469f148?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">duniaternak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG</title>
		<link>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/budidaya-ternak-sapi-potong/</link>
		<comments>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/budidaya-ternak-sapi-potong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 05:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>duniaternak</dc:creator>
				<category><![CDATA[jual buku]]></category>
		<category><![CDATA[sapi potong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG ( Bos sp. ) 1. SEJARAH SINGKAT Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniaternak.wordpress.com&amp;blog=3722687&amp;post=1&amp;subd=duniaternak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG</strong><strong><br />
<strong>( Bos sp. ) </strong></strong></p>
<p class="bg" style="text-align:center;" align="center"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>1.</strong><span> </span><strong>SEJARAH SINGKAT</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span>Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>2.</strong><span> </span><strong>SENTRA PETERNAKAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span>Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.</p>
<p>Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. <span>Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>3.</span></strong><span><span> </span><strong>J E N I S</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> <span> </span>Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).</span></p>
<p>Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi<br />
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.</p>
<p>Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.</p>
<p>Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>4.</span></strong><span><span> </span><strong>MANFAAT</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> <span> </span>Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan<br />
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.</span></p>
<p>Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>1)<span> </span>Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>2)<span> </span>Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>3)<span> </span>Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>5.</span></strong><span><span> </span><strong>PERSYARATAN LOKASI</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> <span> </span>Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>6.</span></strong><span><span> </span><strong>PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> <span> </span><strong>6.1.</strong><span> </span><strong>Penyiapan Sarana dan Peralatan</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.</span></p>
<p>Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.</p>
<p>Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.</p>
<p>Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.</p>
<p>Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5&#215;2 m atau 2,5&#215;2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8&#215;2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5&#215;1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m).</p>
<p>Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><em><strong><span>1)</span></strong></em><span><span> </span><strong><em>Konstruksi dan letak kandang</em></strong><br />
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing<br />
sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.<br />
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal<br />
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak<br />
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.<br />
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang<br />
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan<br />
tidak boleh kehabisan setiap saat.<br />
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter<br />
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan<br />
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><em><strong><span>2)</span></strong></em><span><span> </span><em><strong>Ukuran Kandang</strong></em><br />
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5&#215;1 m.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><strong><em><span>3)</span></em></strong><span><span> </span><em><strong>Perlengkapan Kandang</strong></em><br />
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.</span></p>
<p>Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>6.2.</span></strong><span><span> </span><strong>Pembibitan</strong><br />
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>1)<span> </span>Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>2)<span> </span>Matanya tampak cerah dan bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>3)<span> </span>Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>4)<span> </span>Kukunya tidak terasa panas bila diraba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>5)<span> </span>Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>6)<span> </span>Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>7)<span> </span>Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> <span> </span>Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><br />
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>1)<span> </span>tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>2)<span> </span>kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>3)<span> </span>laju pertumbuhannya relatif cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>4)<span> </span>efisiensi bahannya tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>6.3.</span></strong><span><span> </span><strong>Pemeliharaan</strong><br />
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :<br />
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.<br />
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.<br />
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.</span></p>
<p>Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><em><span>Sanitasi dan Tindakan Preventif</span></em></strong><span><br />
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak      mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya      sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><strong><span>Pemberian Pakan</span></strong></em><span><br />
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam      masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan      yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.</p>
<p>Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan      (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara      pertama dan kedua.</p>
<p>Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang      biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup      luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka      tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan      bermacam-macam jenis rumput.</p>
<p>Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal      dengan istilah kereman.</p>
<p></span><span>Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat      lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat      badannya dan juga pakan tambahan 1% &#8211; 2% dari berat badan. Ransum tambahan      berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang      diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu,      dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan      sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini      dikenal dengan istilah ransum.</p>
<p>Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan      dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi<br />
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam      hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan      tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput      gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.</p>
<p>Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan      tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering      adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa      digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang      banyak mengandung serat kasar.</p>
<p>Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan      silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat      silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari      proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah      memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi,      dll.</p>
<p></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Pemeliharaan Kandang</span></strong></span><span><br />
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.</span></p>
<p>Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>7.</strong><span> </span><strong>HAMA</strong><strong> DAN PENYAKIT</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>7.1.</strong><span> </span><strong>Penyakit</strong></p>
<p style="margin-left:3pt;"><strong><em>1.</em></strong><span> </span><strong><em>Penyakit antraks</em></strong><br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.<br />
<strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.<br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><strong><em>2.</em></strong><span> </span><em><strong>Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)</strong></em><br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.<br />
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.<br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><strong><em>3.</em></strong><span> </span><strong><em>Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)</em></strong><br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.<br />
<strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.<br />
<strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><strong><em>4.</em></strong><span> </span><em><strong>Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)</strong></em><br />
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.<br />
<strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">
<p class="MsoNormal"><strong>7.2.</strong><span> </span><strong>Pengendalian</strong><br />
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:</p>
<p style="margin-left:3pt;">1.<span> </span>Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>2.<span> </span>Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>3.<span> </span>Mengusakan lantai kandang selalu kering.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>4.<span> </span>Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>8.</span></strong><span><span> </span><strong>P A N E N</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> <span> </span><strong>8.1.</strong><span> </span><strong>Hasil Utama</strong><br />
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><strong><span>8.2.</span></strong><span><span> </span><strong>Hasil Tambahan</strong><br />
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>9.</span></strong><span><span> </span><strong>PASCA PANEN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> <span> </span><strong>9.1.</strong><span> </span><strong>Stoving</strong><br />
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:</span></p>
<p style="margin-left:3pt;"><span>1.<span> </span>Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>2.<span> </span>Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>3.<span> </span>Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>4.<span> </span>Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><strong><span>9.2.</span></strong><span><span> </span><strong>Pengulitan</strong><br />
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi<br />
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><strong><span>9.3.</span></strong><span><span> </span><strong>Pengeluaran Jeroan</strong><br />
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>9.4.</span></strong><span><span> </span><strong>Pemotongan Karkas</strong><br />
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.</span></p>
<p>Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. <span>Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.</span></p>
<p>Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate &amp; suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).</p>
<p>Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.15pt;"><span>Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span><br />
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>10.</span></strong><span><span> </span><strong>ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> <span> </span><strong>10.1.</strong><span> </span><strong>Analisis Usaha Budidaya</strong><br />
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><strong><em>1) Biaya Produksi</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>a.<span> </span>Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- <span> </span>Rp. 48.750.000,-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>b.<span> </span>Kandang <span> </span>Rp. 1.000.000,-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>c.<span> </span>Pakan<br />
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari<br />
- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari <span> </span><br />
Rp. 12.000.000,-<br />
Rp. 7.482.500,- </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>d.<span> </span>Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- <span> </span>Rp. 75.000,-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> <span> </span><strong>Jumlah biaya produksi </strong><span> </span><strong>Rp. 69.307.500,-</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong><em>2) Pendapatan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>a.<span> </span>Penjualan sapi kereman<br />
Tambahan &gt;Rp. 75.000,-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> <span> </span><strong>Jumlah biaya produksi </strong><span> </span><strong>Rp. 69.307.500,-</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><strong><em>2) Pendapatan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>a.<span> </span>Penjualan sapi kereman<br />
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg<br />
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg<br />
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg <span> </span></span></p>
<p>Rp. 111.110.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>b.<span> </span>Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,-<span> </span>Rp. 1.095.000,-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> <span> </span><strong>Jumlah pendapatan</strong><span> </span><strong>Rp. 112.205.000,-</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><br />
<strong><em>3) Keuntungan</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>a.<span> </span>Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. <span> </span>Rp. 42.897.500,-</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><br />
<em><strong>4) Parameter kelayakan usaha</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>a.<span> </span>B/C ratio<span> </span>= 1,61</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>10.2.</span></strong><span><span> </span><strong>Gambaran Peluang Agribisnis</strong><br />
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. </span><span>Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.</span></p>
<p>Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :</p>
<p><em><strong><span>a)</span></strong></em><span><span> </span><em><strong>Konsumen Akhir</strong></em><br />
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.</span></p>
<p>Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :</p>
<p style="margin-left:3pt;"><span>1.<span> </span>Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )<br />
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>2.<span> </span>Konsumen asing<br />
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><em><strong><span>b)</span></strong></em><span><span> </span><em><strong>Konsumen Industri</strong></em><br />
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><br />
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :</span></p>
<p style="margin-left:3pt;"><span>a)<span> </span>KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>b)<span> </span>APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span>c)<span> </span>ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong><span>11.</span></strong><span><span> </span><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span> <span> </span>1.<span> </span>Abbas Siregar Djarijah. </span><span>1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>2.<span> </span>Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>3.<span> </span>Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. </span><span>1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>4.<span> </span>Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><span>5.<span> </span>Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">6.<span> </span>Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New   York.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;">
<p class="MsoNormal"><strong>12.</strong><span> </span><strong>KONTAK HUBUNGAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">1.<span> </span>Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS<br />
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">2.<span> </span>Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: <a href="http://www.ristek.go.id/" target="_blank">http://www.ristek.go.id</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><span> </span><em><strong>Sumber :</strong></em><br />
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/duniaternak.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/duniaternak.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniaternak.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniaternak.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniaternak.wordpress.com&amp;blog=3722687&amp;post=1&amp;subd=duniaternak&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniaternak.wordpress.com/2008/05/14/budidaya-ternak-sapi-potong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4c654ceaf610f040df5d7ea92469f148?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">duniaternak</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
